Tentang Penulis

If You wanna see me, You can see me on my arts.



Kata Pembaca


Tulisan

Menyampaikan Melalui Huruf

  • Nulis Novel Iya, Nulis Musik Apalagi!

    Hai, hai!

    Lama juga nggak nulis sesuatu di blog :). Untuk Anda yang belum mengenal saya, bisa baca laman "Tentang Penulis" loh dan salam kenal. Buat yang udah kenal, ya udah (kedip-kedip). 

    Di tahun 2018 ini, saya mengingat satu impian besar saya yang sudah saya perjuangkan ketika SMA tetapi hingga kini masih buram, tiada "hasil yang baik". Judul impian itu adalah 'musisi'. FYI, SPMB pertama saya dulu, saya memilih jurusan Musik di Universitas Negeri Jakarta meski tak ada basic musik -buta not balok-. Begonya, ketika ujian hari pertama yakni Matematika Dasar, ada pengumuman kalau esok hari selain ujian IPA/IPS, ada ujian praktek bagi jurusan tertentu. Trus, saya baru ngeh kalau musik itu ada ujian praktek! Mana saya ada di Palembang sementara yang diincar Jakarta. Oh Tuhan, ya sudahlah... pupus sudah kuliah musik. 

    Lalu, pikiran lugu kala remaja itu -sambil mempertimbangkan finansial- mengeluarkan kata, "Tanpa masuk jurusan musik masih bisa bermusik kok!"

    Okelah, saya yang mendapatkan hadiah Keyboard -saya lupa mereknya- dari orangtua saya (yang mendapatkan arisan) mengotak-atik tuh alat, mempelajari dan menghafal kord. FYI lagi, sebelum memiliki keyboard sendiri, saya sering bermain organ milik kakek -cuma di waktu liburan-. Bermodal keyboard yang dibeli seharga 500rb tersebut, saya berhasil "tahu" kord-kord lagu yang saya tulis sendiri. 

    Saya membeli majalah yang isinya kord gitar waktu kuliah, belajar main lagu-lagu Peterpan - Sherina - Slank dll dengan kord gitar di piano. Saya berlatih hingga tangan saya "hafal sendiri" letak kord. Hafal, kah? Kalau kunci-kunci minor dan mayor sih khatam, kunci kres... mayan dikit-dikit. Selain dari majalah gitar itu, saya selalu memainkan lagu-lagu Jepang favorit saya bahkan hingga saat ini. Lagu andalan saya adalah Butterfly (Digimon I), Houkiboshi (Bleach, Younha), Kimi ga Ireba (Conan, Iori), Karenai Hana (Full Metal Panic, Shimokawa Mikuni), For Fruits Basket (Fruits Basket, Ritsuko Okazaki), Dearest - Heaven (Ayumi Hamasaki), Fukaimori (Inuyasha, Do As Infinity)  dll -ketahuan deh angkatan berapa dari OST anime masa remajanya -_- -




    Nah, tiga video sebelumnya adalah contoh permainan musik saya, kalau diperhatikan... penjarian saya kacau-balau, saya memang tidak belajar dengan ahlinya T_T. 

    Oke, masuk ke topik sesungguhnya tulisan ini (ets... sabar! Salah saya memang karena openingnya panjang -apalagi kalau Anda menonton tiga video rekaman musik saya > _ <). 

    Menulis novel dan musik adalah sesuatu yang saya lakukan paralel meski yang paling saya sukai -karena lebih singkat durasinya- adalah musik :p. Saya si pemimpi ber-asa kalau novel saya diterbitkan maka suatu hari akan ada filmnya, kalau film based on novel itu ada, maka saya harus menulis lagu-lagu soundtracknya -biar senapas gitu loh, kayak Dewi Lestari atau Andrea Hirata yang turut andil menyumbangkan lagu ciptaan di film based on novel mereka- 

    Berangkat dari khayalan itu -yang seperempatnya sudah jadi nyata- saya menulis novel sekaligus soundtrack-soundtracknya. Oh ya, semenjak ada keyboard, saya belajar mengaransemen meski baru 'lumayan' dua tahun terakhir (contoh aransemen karya saya). Nah, novel pertama saya (indie, sebagai hadiah ultah untuk diri sendiri) adalah Firasat Ailee.

    Saya menulis sebuah lagu berjudul "Untuk Abizar (Lagu Ailee)" . Sebagai peringatan, kalau mau mendengarkan lagunya tolong pakai earphone/headset/headphone, ya! Soalnya direkam dengan mikrofon, sumber daya manusia, dan ruangan seadanya :p.


    "Aku benci melihat mimpi
    Aku bosan menebak artinya
    Aku ingin berlari dari firasat yang membelengguku" 

    (Untuk Abizar (Lagu Ailee))

    Lewatkan novel-novel indie saya lainnya karena saya tidak menyiapkan OST untuk mereka (loh). Lanjut ke novel mayor pertama saya, Yesterday in Bandung .



    Saya menyiapkan dua lagu yakni Time Likes A Wind (sebenarnya diambil dari 'tabungan' zaman baheoula, versi tanpa vokal dikarenakan saya males belum sempat menulis liriknya) dan Kemarin yang saya persembahkan khusus untuk tokoh Shaki.


    "Bagimu semua masalah terlihat begitu besar karena pikiranmu yang sempit
    Cobalah ambil sudut pandang berbeda dan kautemukan sesuatu yang baru"

    (Kemarin)

    Lalu, novel Dear, Me .

    Thanks a lot untuk ilustrator: Sweetmal et Wordpress

    Saya menggunakan tabungan instrumental saya (yang cuma berupa instrumental tanpa niat menjadikannya lagu) berjudul Itsumademo (sampai kapan pun). Sementara OST sebenarnya, yang benar-benar saya tulis untuk tokoh Zia adalah lagu berjudul Teruntukmu, Diriku -sekaligus dikirim untuk diri saya sendiri-

    "Saat ingin menyerah, lagukan doamu
    Setiap kesulitan pasti ada kemudahan
    Kala ingin sudahi semua usahamu
    Ah, terima kasih tlah berjuang
    Wahai diriku di mana pun berada
    Wahai jiwaku di usia berapa pun
    Wahai ragaku apa pun keadaanmu
    Teruntukmu, Diriku yang tercinta" 
    (Teruntukmu, Diriku)

    Untuk yang terbaru, saya (insya Allah) akan merilis novel remaja bertema bisnis makanan berjudul "CUKO". Saya menyiapkan OST berjudul "Berlari"


    "Sebelum menua makan saja kegagalan
    Bersiap babak baru akan dimulai"
    (Berlari)

    Baiklah, sekian dulu tulisan saya tentang novel-musik ini. Nanti akan saya ceritakan perihal album ala-ala sebagai hadiah untuk diri sendiri berjudul DEAR (bisa kalian dengarkan di soundcloud saya). Oke, see you! Terima kasih sudah berkenan membaca -kalau boleh sih sebarkan dan kasih komentarmu, ya!

    Dah!
  • Halo-Halo, Bandung!

    Saya menulis "Yesterday in Bandung" dan menggerakkan tokoh Shaki yang kuliah di Bandung pada tahun 2015. Saat itu saya belum pernah ke Bandung dan kudu riset agar setidaknya bagian Shaki seperti berada di Bandung.

    2017, dosen memberi kabar ada konferensi di Bandung dan setelah mempelajari poster konferensi ersebut, saya memutuskan ikut, ke Bandung. 

    Saat saya menulis ini, saya masih tepar -baru pulang dari Bandung naik kereta ke Jatinegara (tiga jam-an), nyambung KRL ke Pondok Cina (1 1/2 jam-an)-. 




    Saya ke Bandung naik bus MGI dari Depok, tiketnya seharga Rp70.000 (di bus tulisannya TARIP 0_0, harusnya Tarif). Di Bandung, bus tersebut berhenti di terminal Leuwipanjang. Karena saya menginap di Cibiru -lokasi terdekat dari UIN Sunan Gunung Djati tempat diselenggarakannya konferens- saya naik Gojek sejauh 17km, lamaaaa, pegel euy. 

    Di penginapan, saya menyewa kamar backpacker yang isinya tempat tidur doang, kamar mandi luar. Oke, ini salah saya karena tidak cermat memilih tempat, tergiur dengan kedekatan penginapan dengan UIN dan harganya ramah banget. Kurang sreg, saya keluar, nyari makan ke Metro Mall yang saya lewati sewaktu naik Gojek.

    Yang ujung-ujungnya mempertemukan saya (lagi-lagi) dengan Kolonel Sanders :). Setelah hulu-hilir jajan (terutama beli stok minum karena penginapan tidak memberikan bahkan segelas aqua -hiks), saya memutuskan upgrade kamar yang ada kamar mandi dalamnya. Sebagai perempuan, saya risi bolak-balik kamar mandi luar, nggak bebas -harus pakai jilbab karena hukum mahram. Dengan harga yang menurut saya ehm (salah saya juga karena upgrade di hari H), saya mendapat kamar yang ada kamar mandinya. Tapi ya, nggak ada peralatan mandi yang diberikan, minum pun tak ada. Agak kecewa karena dengan harga itu, kalau di penginapan lain, sudah dikasih fasilitas alat mandi dan mineral. Alhasil, yang harusnya nginep dua hari, saya cuma sehari, langsung cari penginapan lain di daerah Dago -cepat kalau ke stasiun-. Dengan harga yang sedikit lebih rendah, saya berhasil dapat penginapan di Dago dengan fasilitas alat mandi, kamar mandi dalam, mineral, pemanas air, dan sarapan (sorak-sorai).

    Konferensi IC-CALL 2017 UIN Sunan Gunung Djati

    Nah, agenda utama saya di Bandung adalah konferens IC-CALL 2017. Saya salah satu presenter, mempresentasikan artikel saya agar bisa menerbitkan prosiding sebagai salah satu syarat kelulusan :). Btw, yang present di aula itu orang-orang penting, kalau saya mah di kelas dengan penonton dedek-dedek gemez yang mengaku lahir tahun 1997-1998.

    Angkot Cicaheum

    Pulang konferensi, saya nge-bolang naik angkot Cicaheum. Sebenarnya saya mau ke Dago, dan sudah diajari oleh peserta konferens kalau naiknya dari bunderan Cibiru, eh... saya naik angkot yang mangkal depan gerbang UIN -_o, pantes rutenya beda wkwkwk, lewat kota -ramai.  

     Gedung Sate

    Seperti biasa, hujan di sore hari, mana payung saya hilang, nggak bisa turun di Ciwalk T_T.

    Akhirnya pada suatu titik -setelah memelototi maps- saya turun di suatu tempat yang jualan bakmi. Dari maps, tempat ini tidak terlalu jauh dari penginapan baru saya (4km-an). Tebak, saya makan pempek kapal selam 0_0. FYI, saya tidak suka cuko dicampur ke pempek, apalagi mentimunnya banyak banget, cuko jadi tidak bisa diseruput >_<. Btw, saya lagi mengerjakan naskah berjudul CUKO, tentang bisnis kuliner yang digeluti anak-anak remaja. 

    Baik, kayaknya segitu dulu laporan acakadut ini. Semoga ada manfaatnya~
  • Tes Jadi Editor [Pengalaman]

    Malam!

    Beberapa hari lalu saya mengikuti tes tertulis dan wawancara di sebuah penerbit yang bertempat di H.Montong, Jakarta Selatan. Ada yang tahu? 

    Saya yakin sebagian kalian menjawab, "Gagasmedia" atau "Bukune". Benar, mereka di situ tapi bukan hanya dua penerbit tersebut yang ada di Jl.H.Montong 57 loh! Saya juga baru ngeh ketika ikut kelas menulis Montong yang diselenggarakan Bukune, saya hafal alamat Gagasmedia tapi nggak ngeh Bukune dkk juga bertempat di sana, di bawah grup Agromedia.

    Nah, saya melamar menjadi editor di lini VisiMedia. Saya tahu VisiMedia karena membaca beberapa fiksi kriminal/misteri seperti Project X dan Bastard Legacy. Saya ikutin VisiMedia di laman sosial khususnya Twitter, dan mendapat info lowongan dari sana. Dibilangnya, "freelance editor" jadi dengan senang hati saya ikut ngirim CV dan alhamdulilah dipanggil tes (dari beberapa lamaran editor, baru dua kali saya dipanggil tes hiks). 

    Karena domisili saya sekarang di Depok, saya naik Gojek ke H.Montong, sempat nyasar karena nggak ada papan "Penerbit bla bla bla" (walau sebelumnya saya pernah sekali ke sana, dan nyasar juga). 

    Setelah sampai dan ketemu resepsionis, saya dan beberapa kandidat lainnya mengisi formulir pelamar. Lalu, mengikuti tes tertulis. Ada dua tes, pertama menyunting naskah mentah beberapa halaman (pakai pena merah) dan kedua tes pengetahuan bahasa Indonesia. Contohnya di gambar I dan II, ya.

    Gambar I dan II. Contoh tes editor

    Saya agak-agak lupa perihal majas dan menjawab 'seingat saya' :p, lalu untuk sinonim-antonim... ada yang saya tidak tahu (hiks). 

    Lepas dari tes tertulis, ishoma, lalu tes wawancara dengan editor dan HRD. Nah, di sini dijelaskan kalau yang dimaksud "freelance editor" itu kerja kontrak selama 3 bulan, penuh. Wah, saya yang masih menyandang gelar mahasiswa langsung, "Yaa....". Bau-bau nggak enak O_o. 

    Wawancaranya mengalir, tidak menegangkan, tidak seperti wawancara beasiswa pertama kali 0_0. Saya skeptis diterima karena jadwal saya, tidak bisa full, mana lagi tesyiz. 

    Diiringi hujan yang saban hari mengguyur -terutama menjelang sore- saya dan empat kandidat -yang semuanya perempuan- berkenalan dan ngobrol-ngobrollah. Info terakhir yang saya tahu, satu orang dinyatakan lulus seleksi -dan tentu itu bukan saya, ya. 
    Meski gagal, pengalaman tes jadi editor ini seperti mendekatkan pada satu mimpi (jadi editor), setidaknya ada gambaran kalau saya harus belajar majas, sinonim, antonim, dan tentunya... mempelajari PUEBI. 



  • Meneliti Wattpad Indonesia [Diari Penelitian]

    Halo!

    Saat ini saya di masa suram.

    Apakah kalian tahu tentang aplikasi/situs bernama Wattpad? Apa kalian sewaktu berada di toko buku baik daring atau laring melihat novel yang ada tulisan "Dibaca sekian juta kali" atau "Wattpadlit" atau "Best seller (+ada logo Wattpad)"?

    Salah satu contoh novel Wattpad yang best seller

    Ketika saya ke toko buku dan lihat cap sampul Wattpad, saya menyimpulkan ada sesuatu di Wattpad -terutama Wattpad Indonesia. Saya tahu dan mendaftar Wattpad sejak tahun 2013 tapi ditinggalkan karena sepi. Tahu-tahu, berapa tahun kemudian (sekitar 2015) novel-novel Wattpad menghiasi toko buku. Sekarang, banyak sekali novel Wattpad yang memasang label "Best seller" atau "National Best Seller" hingga "Mega Best Seller" (terus saya balik ke Wattpad :p)

    Wow bangets!

    Novel saya yang dijajarkan terasa bak anak tiri (eh curhat). Saya sih yang menyejajarkannya :p, biar dikira novel beken dan banyak pembacanya juga (ketawa).

    Btw ya, setelah ditolak beberapa penerbit, naskah Dear, Me saya masukkin ke Wattpad (Dear, Me di Wattpad) tapi tidak sampai 1000 kali dibaca (hiks) bahkan setelah terbit mayor. Ya... mana bisa dicap dengan "Dibaca lima ratus kali di Wattpad". Bab-nya aja ada 16 (misal), kalau 500/16 = 31,25 (sekitar 31 orang yang berpotensi jadi pembaca, yang mengikuti 16 chapter). Belum ditambah kemungkinan saya klik terus hingga view-nya banyak (ketawa licik dan miris). Syukurlah, Dear, Me mendapatkan jodohnya di penerbit mayor tanpa melihat statistik Wattpad >_<.

    Kalau misalnya naskah saya terbit jika follower Wattpad saya sudah ribuan, ya... zaman kapan itu terjadi?

    Well, saya cuma intermezzo menyentil kehidupan saya dan naskah. Buat kalian yang mengorbit karena Wattpad, itu jalan kalian... semua (calon) penulis memiliki jalannya masing-masing, media masing-masing.

    Oke, kembali ke masa suram saya. Saat ini saya membutuhkan bantuan kalian-kalian yang tahu tentang Wattpad, entah sebagai penulis, pembaca, editor, pemerhati, blogger, atau apa aja deh yang memakai Wattpad, tolong isi kuisioner saya, ya!


    Klik ini: KUISIONER WATTPAD

    Tiada kesan tanpa pengisian kuisioner tersebut!

    Kalaupun kalian bukan makhluk pengenal Wattpad, bisa bantu saya dengan menyebarkan tautan tersebut, ya!

    Begitu dulu pembuka dari diari penelitian. Sebisa mungkin saya akan berbagi keluh-kesah-capek penelitian di sini (biar blog nggak kosong aja sebenarnya).

    Dah! Makasih ya kalau kalian menyempatkan isi kuisioner dan membagikannya. Semoga kalian diberkahi Tuhan! Aamiin!

  • Dapat Piring Cantik Harusnya Mah!

    Jadi, tulisan ini didedikasikan kepada diri sendiri dan Anda yang mungkin mengalami kegagalan seperti saya atau untuk orang yang mau belajar dari kisah nyesek orang lain.

    Saya akan cerita perihal beasiswa.

    Sejak tahun lalu, saya mengikuti sebuah beasiswa. Gelombang 1, tutupnya sehari sebelum pengumuman kelulusan perguruan tinggi, jadi... Gagal di administrasi (tidak ada bukti lulus perguruan tinggi).

    Gelombang kedua, saya yang sudah lolos perguruan tinggi ikut seleksi beasiswa lagi. Oke, kali ini administrasi lulus dan masuk tahap wawancara. Di sini saya presentasi topik penelitian mengenai majalah komik Indonesia re:ON dan sedikit pede karena novel mayor pertama saya, Yesterday in Bandung terbit, jadi bisa dijadikan "penguat CV".

    Well, skeptis saya saat wawancara. Sketpis itu pun berbuah ketidaklulusan.

    Ok, tenang, baru dua kali gagal.

    Tahun berikutnya saya ikut lagi. Kali ini syaratnya sedikit berbeda. Baiklah, saya daftar lagi dan yakin bisa sampai *setidaknya* tahap wawancara. Wong saya pernah sampai wawancara kan, ya.

    Tapi, takdir berkata lain Saudara-saudara!

    Saya tidak lulus administrasi?! Uwow banget, nangis cabe . Saya cermati lagi, seluruh persyaratan sudah saya penuhi. Masa' administrasi saja gagal? Kok yang gelombang sebelumnya mulus saja?

    Saya hubungi pihak panitia, mempertanyakan mengapa saya gagal di administrasi?! Dibales, disuruh kirim detil no.peserta bla bla bla. Eng ing eng, sampai detik ini pun tidak ada respons lagi. Ya sudahlah, bukan rezeki.

    Datang gelombang berikutnya, kesempatan terakhir. Ingat ya, pemirsa, saya sudah tiga kali gagal.

    Saya yang sudah pasrah, sudah veteran ikut "hopeless". Mana sudah di masa maksimal ikut. Kalau gagal berarti GAGAL.

    Kali ini saya lolos administrasi. Saya yang lagi liburan di tanah kelahiran buru-buru ke ibukota! *padahal masih pengen libur*.

    Sewaktu pemeriksaan data, petugas bilang kalau dokumen saya "ketuaan", harusnya diperbarui. Oke, saya sudah mulai speechless, hopeless. Salah memang, saking veterannya, data pun data veteran.

    Tapi, saya optimis saja. Saya meyakinkan diri kalau proposal dan CV saya yang nambah karena novel baru Dear, Me akan mengukuhkan alasan saya yang bermanuver fakultas.

    Saya pun dapat pewawancara yang baik. Yang di akhir, sewaktu bersalaman mendoakan saya dan mengatakan kadang hidup kita tidak seperti yang diharapkan, tapi jangan menyerah.

    Lalu, saya langsung terbang lanjut liburan.

    Waktu berlalu, pengumuman sempat diundur-undur sampai akhirnya surat yang sama muncul lagi di kotak surel. Tidak lulus yang ke.... (malu euy nyebutnya, hitung sendiri saja).

    Kali ini tidak ada nangis bombay. Datar aja (ya iyalah, orang pas pengumuman lagi di perpus, lagi mo presentasi). 

    Pupus sudah harapan.
    Tiada lagi.
    Begitulah. 


    Hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan yang kita harapkan
    Hadapilah dengan hati tenang, teruskan melangkah! (Bondan Prakoso - Kau Tak Sendiri)

    Atau

    "Aku bisa aku pasti bisa! Asalku mau berusaha
    Biarpun gagal itu tak masalah, setidaknya ku tlah mencoba." (Aku Bisa, Tasya).

    Yes, setidaknya selama dua tahun saya sudah semangat ikut. Walau akhirnya tidak memuaskan, tidak baik.

    Semoga kalian yang membaca ini diangkat dari kegagalan dan bertemu keberhasilan, ya. Aamiin.
  • Melihat Hebohnya Wattpadlit Awards WAWA 2017 yang Perdana

    Halo! Kemarin saya berkesempatan hadir di penghelatan perdana Wattpadlit Awards WAWA 2017 di Hotel Salak Tower Bogor, lt.21. Sebelumnya penerbit Loveable, bersama lini Romancious dan Fantasious gembar-gembor mengenai Wattpadlit, ajang penghargaan untuk penulis Wattpad Indonesia. Ada beberapa artis ibukota juga yang ternyata menerbitkan buku dan menjadi pembicara di sini loh, nama artisnya Nicky Tirta (doi manis yak, terakhir saya lihat aktingnya di film Petak Umpet Minako), Arbani (?), dan Hanggini (?). FYI, saya tidak tahu siapa itu Arbani dan Hanggini (ketawa). Jadi, sewaktu orang-orang pada ribut, saya adem ayem -diam-diam nyari data penelitian *upps. 

    Nah, sekitar 6 kategori diberi penghargaan. Antara lain: naskah dewasa terbaik, naskah remaja terbaik, naskah fantasi terbaik, cover terbaik, naskah favorit pembaca, dan penghargaan khusus (yang pemenangnya adalah Erisca Febriani (Dear, Nathan) dan Wulanfadi (Aku, Benci, Cinta) yang film-film dari novelnya sudah bisa ditonton di bioskop *iri*). Oh ya, saya kurang memperhatikan dan mencatat nama-nama pemenang kecuali penghargaan khusus, jadi... maaf ya :). Btw, sedikit kecewa karena naskah yang saya kirim untuk Wattpadlit masuk nominasi pun tidak *hiks. Selamat buat para pemenang, semoga sukses dengan karyanya!

    Saya sempat mengabadikan beberapa momen yang bisa dilihat dari foto dan video berikut:






    Bocorannya, akan dihelat WAWA di tahun depan :). Jadi, buat para pejuang Wattpad, marilah bersiap untuk pertempuran berikutnya!