Para Ksatria: Ketika Frustrasi pada Negeri Berubah Menjadi Lagu

 

 
 
 

Aku menulis Para Ksatria di tahun 2026, tepatnya ketika aku sedang merasa frustrasi setiap kali membaca berita dan melihat berbagai kebijakan yang menurutku tidak bijak. Ada rasa kesal, lelah, sekaligus tidak berdaya. Entah kenapa, perasaan-perasaan itu kemudian justru berubah menjadi ide lagu.

 

Saat itu, tiba-tiba terlintas sebuah kalimat di kepalaku, “Berkumpul, para ksatria!” Lagi-lagi aku mendapatkan inspirasi dari Bang Pandji Pragiwaksono. Aku masih ingat ketika menonton langsung pertunjukan Mens Rea pada Agustus 2025. Di sana, beliau pernah berbicara tentang kita sebagai ksatria pingitan—ksatria yang ditunggu-tunggu dalam sebuah cerita untuk akhirnya muncul dan melawan kejahatan. Tapi bukan sekadar menunggu. Jadilah ksatria.

 

Entah kenapa, kata ksatria mendapat tempat yang spesial di dalam diriku setelah itu. Sampai akhirnya momentum itu datang: frustrasi menghasilkan ide. Ketika melodi muncul di kepala, aku langsung menulisnya dengan cepat. Bahkan bagian pembukanya muncul bersamaan antara melodi dan lirik: “Berkumpul, para ksatria.”

 

 Para Ksatria - Nabilah Rosyadah di Spotify

 

Sejak awal, aku membayangkan lagu ini seperti lagu yang dinyanyikan di tengah perang. Bukan perang secara harfiah, tetapi semacam seruan untuk memberi semangat dan keberanian kepada orang-orang yang sedang berjuang. Aku membayangkan para ksatria dipanggil untuk menghadapi seorang raja yang menyiksa rakyatnya—seorang raja yang tidak pernah merasa cukup, meskipun sudah menguras keringat, air mata, bahkan darah rakyatnya.

 

Untuk musiknya, aku membayangkan sebuah hymne yang dominan dengan tepukan dari badan, seperti suara yang mungkin terdengar di tengah suasana perang. Aku ingin ada kesan bahwa lagu ini bukan hanya dinyanyikan oleh satu orang, tetapi seperti sebuah seruan yang bisa diikuti banyak orang. Dalam proses produksinya, aku dibantu AI-assisted untuk membuat instrumental dan backing vocal.

 

Salah satu tantangan terbesar dalam lagu ini justru warna suaraku sendiri. Warna suaraku cenderung warm dan tone-nya tidak terlalu powerful. Padahal, ketika membayangkan lagu ini, aku sempat membayangkan Tantri Kotak yang menyanyikannya. Rasanya pasti powerful dan keren banget kalau suara seperti beliau yang membawakan lagu ini.

 


Tapi ya… aku bukan siapa-siapa. Jadi akhirnya aku menyanyikan lagu ini sendiri, dengan tone suaraku sendiri. Dan ternyata cukup sulit. Aku sempat merasa warna suaraku tidak benar-benar cocok dengan karakter lagu yang ada di kepalaku. Akhirnya aku memilih untuk tidak terlalu memaksakan suara agar terdengar powerful. Aku lebih bermain dengan ekspresi ketika merekam. Aku harus seserius mungkin, benar-benar masuk ke suasana lagu dan membayangkan bahwa aku sedang memanggil orang-orang untuk bangkit.

 

Mungkin suaraku tidak terdengar seperti suara seorang panglima perang. Tapi setidaknya, ini adalah caraku sendiri untuk meneriakkan sesuatu yang sedang kurasakan.

 

Para Ksatria (2 Juni 2026)

Di suatu negeri, hidup seorang raja
Yang kelaparan, selalu kelaparan
Tangis keringat… hingga darah rakyatnya
Diperas habis, tanpa tersisa… ah…
Tak kunjung mengenyangkannya… ah…

Bisa melihat, buta hati
Bisa mendengar, hanya pujian
Bisa bicara, pandai berdusta

Bisa berpikir, tapi tak logis
Bisa menangis, berpura-pura
Bisa berkuasa, selamanya…

Bangunlah… para ksatria
Berkumpul… para ksatria
Bangunlah… para ksatria
Berkumpul… para ksatria


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita

Contoh Kerangka Karangan (Outline) Novel

Pengalaman Menjadi Pekerja Lepas di Upwork