• Tes Jadi Editor [Pengalaman]

    Malam!

    Beberapa hari lalu saya mengikuti tes tertulis dan wawancara di sebuah penerbit yang bertempat di H.Montong, Jakarta Selatan. Ada yang tahu? 

    Saya yakin sebagian kalian menjawab, "Gagasmedia" atau "Bukune". Benar, mereka di situ tapi bukan hanya dua penerbit tersebut yang ada di Jl.H.Montong 57 loh! Saya juga baru ngeh ketika ikut kelas menulis Montong yang diselenggarakan Bukune, saya hafal alamat Gagasmedia tapi nggak ngeh Bukune dkk juga bertempat di sana, di bawah grup Agromedia.

    Nah, saya melamar menjadi editor di lini VisiMedia. Saya tahu VisiMedia karena membaca beberapa fiksi kriminal/misteri seperti Project X dan Bastard Legacy. Saya ikutin VisiMedia di laman sosial khususnya Twitter, dan mendapat info lowongan dari sana. Dibilangnya, "freelance editor" jadi dengan senang hati saya ikut ngirim CV dan alhamdulilah dipanggil tes (dari beberapa lamaran editor, baru dua kali saya dipanggil tes hiks). 

    Karena domisili saya sekarang di Depok, saya naik Gojek ke H.Montong, sempat nyasar karena nggak ada papan "Penerbit bla bla bla" (walau sebelumnya saya pernah sekali ke sana, dan nyasar juga). 

    Setelah sampai dan ketemu resepsionis, saya dan beberapa kandidat lainnya mengisi formulir pelamar. Lalu, mengikuti tes tertulis. Ada dua tes, pertama menyunting naskah mentah beberapa halaman (pakai pena merah) dan kedua tes pengetahuan bahasa Indonesia. Contohnya di gambar I dan II, ya.

    Gambar I dan II. Contoh tes editor

    Saya agak-agak lupa perihal majas dan menjawab 'seingat saya' :p, lalu untuk sinonim-antonim... ada yang saya tidak tahu (hiks). 

    Lepas dari tes tertulis, ishoma, lalu tes wawancara dengan editor dan HRD. Nah, di sini dijelaskan kalau yang dimaksud "freelance editor" itu kerja kontrak selama 3 bulan, penuh. Wah, saya yang masih menyandang gelar mahasiswa langsung, "Yaa....". Bau-bau nggak enak O_o. 

    Wawancaranya mengalir, tidak menegangkan, tidak seperti wawancara beasiswa pertama kali 0_0. Saya skeptis diterima karena jadwal saya, tidak bisa full, mana lagi tesyiz. 

    Diiringi hujan yang saban hari mengguyur -terutama menjelang sore- saya dan empat kandidat -yang semuanya perempuan- berkenalan dan ngobrol-ngobrollah. Info terakhir yang saya tahu, satu orang dinyatakan lulus seleksi -dan tentu itu bukan saya, ya. 
    Meski gagal, pengalaman tes jadi editor ini seperti mendekatkan pada satu mimpi (jadi editor), setidaknya ada gambaran kalau saya harus belajar majas, sinonim, antonim, dan tentunya... mempelajari PUEBI.