• Berbagi Kegagalan Beasiswa


    Ketika punya niat melanjutkan pendidikan, benak langsung menyuarakan kata 'beasiswa'. Dan beruntungnya, saya menemukan beasiswa yang menggiurkan, penuh dan ada kategori untuk penulis (masyarakat). Tak lama, saya berkutat dengan dokumen pesyaratan. Mulai dari Toefl (saya sempat skeptis karena kemampuan bahasa Inggris saya kurang, tesnya mahal namun syukurlah nilainya pas-pasan ;), nggak perlu tes lagi), surat rekomendasi, LoA (setelah saya lulus ujian masuk universitas dan mendapat kartu mahasiswa, saya bisa membuat surat keterangan sebagai mahasiswa baru), hingga proposal (gambaran tesis dan biaya hidup). 

    Setelah syarat lengkap, saya submit.

    Lalu, saya sadar kalau saya belum mencantumkan prestasi karena tidak ada sertifikat~

    Ya, sudahlah. Kalau prestasi adalah syarat administrasi, saya pasti akan menerima surel 'Anda tidak lulus administrasi' seperti sebelumnya.

    Dan... Surel cantik tentang lulus administrasi tersampai ke saya! (Sebelumnya saya daftar juga tapi nggak lulus karena belum mengajukan proposal dan LoA). Saya pun melaju ke tahap wawancara.

    Saya datang pagi sekali karena takut macet. Masuk ke ruang wawancara sekitar pukul 10.00-10.30 wib.

    Hal pertama yang saya temui adalah pewawancara yang kaget karena masih ada yang harus diwawancara (dia kira udah waktunya istirahat). Saya mulai merasa nggak enak sejak itu. Lalu, pewawancara meminta saya melakukan cek validasi data dan tanda tangan kontrak.

    Pewawancara melakukan pengecekan dan mencontreng formulir. Ketika dia bertanya sertifikat prestasi, saya memerlihatkan novel merah saya dkk. Dia bertanya mengapa nama saya tidak ada. Saya menunjuk ke suatu nama dan bilang ini saya, memakai nama pena. Wajahnya seperti tidak percaya~

    Ya sudah. Saya buka halaman terakhir novel dan menunjukkan nama asli saya yang tertera.

    Sudahlah, saya sudah mencium gelagat nggak enak dari pewawancara ini.

    Saya bilang saya luput menyantumkan novel ini ke bagian prestasi apalagi ini bukan sertifikat. Saya juga sudah pasrah kalau tidak lolos administrasi. Eh, tahunya dipanggil wawancara. Jadi, saya bawa karya saya saat wawancara. Sekali lagi, saya mendaftar sebagai masyarakat -golongan seniman yang mungkin saja prestasi atau sesuatu yang saya anggap prestasi bukan secarik kertas sertifikat.

    "Kenalkan diri dalam bahasa Inggris." Perintahnya.

    Oke. Saya kenalkan diri, menyebut nama, universitas dan studi, serta pekerjaan.

    "Itu aja? Cukup?"

    Sialnya, saya ini introvert jadi tidak terlalu suka berbicara banyak. Satu lagi, saya lebih suka menulis dibanding ngomong.

    Lanjut, pewawancara meminta saya menjelaskan proposal.

    Ouke, saya jelaskan. Selama menjelaskan, radar sensitif saya menangkap nih orang nggak tertarik atau nggak mengerti atau bosan atau 'kamu nggak lulus tapi saya harus memaksakan diri mendengar penjelasanmu karena itu prosedur pewawancara'

    Huh, membaca buku kepribadian membuat insting jadi begini dan akhirnya saya keluar dari ruang wawancara dengan sangat-sangat-sangat skeptis.

    Ketika bertemu sahabat saya yang juga ikut wawancara serta beberapa orang yang ternyata satu fakultas dengan saya, saya menangkap pewawancara mereka gencar bertanya hingga ke pekerjaan dll.

    Dalam hati, detik itu saya berkata, "Oh, saya pasti tidak diluluskan pewawancara. Dia tidak bertanya atau antusias atau penasaran. Dia hanya menyuruh sesuai prosedur, tentang perkenalan diri dan proposal. Titik."

    Waktu pun berlalu dan hopla! Insting saya benar, saya tidak lulus (ketawa miris).

    Pesan setelah kemarin hati saya lumayan remuk tapi terhibur karena tumpukan tugas yang kudu diberesin maka disimpulkan bahwasanya, pewawancara adalah faktor utama lulus tidaknya kamu. Berdoalah agar dapat pewawancara yang ramah-baik-tidak sombong dan rajin menabung (?). Well, bukannya saya mau bilang pewawancara saya gimana, tapi... Ya gitu deh.

    Meskipun dapat pewawancara yang baik,tampak antusias, dan banyak banget nanyanya belum tentu juga dilulusin -pengalaman wawancara kerja selama ini-.

    Kadang, ada rasa 'tidak adil' karena si pewawancara yang menentukan nasib cuma melihat kita satu menit atau beberapa menit saja, berdasarkan sikap dan jawaban, mengabaikan rangkaian usaha di baliknya atau proses yang berlangsung yang tidak dilihat oleh pewawancara (huft).

    Tapi ya, mau bagaimana lagi?

    Penyelenggara beasiswa punya keterbatasan dana dan kuota sementara yang mau beasiswa bejibun. Mungkin, kalau biaya kuliah itu murah, maka peminat beasiswa bakal berkurang. Namun, siapa sih yang tidak suka duit? Sedikit pun, kalau ada kesempatan disikat juga~

    Ah, lega sekali sudah menulis ini. Tersalurkan segala keki dan kecewa :p.

    Btw, selamat untuk yang lulus! Yang nggak lulus? Selamat berjuang kembali di beasiswa-beasiswa lainnya. Tuhan selalu memberi hadiah pada yang tidak menyerah!