• After The Deadline


    Setelah mengintip tanggal post blog terakhir, saya jadi menarik napas panjang~
    Awal April dan sekarang akhir April. Begitu cepatnya~

    Ok, ini tanggal 23 April. Tanggal deadline untuk Yesterday in Bandung, dan kami berhasil kirim naskah utuh itu ke editor beberapa hari lalu *happy tears*. Lengkap dengan ucapan Thanks to dan profile. Saya merasa senang sekaligus sedih ketika suatu proyek selesai *hiks*

    Untuk tahun ini, lomba menulis novel dikit banget. Yang di depan mata adalah PSA3 miliknya Grasindo. Grasindo mengadakan lomba novel rasa Korea. Awalnya saya pikir, "Duh, Korea."

    Meski akhir-akhir ini saya menyantap buku-buku penerbit Haru yang rata-rata nerbitin novel terjemahan Korea, tapi saya nggak punya sense menulis Korea modern.

    Ya...tidak untuk Korea modern.



    Kembali ke salah satu hobi saya, menonton drama sejarah Korea. Saya kepikiran nulis drama sejarah. Di pertengahan nonton Jang Ok Jung dan Maids, saya memutuskan ikut PSA3. Ini pertama kali saya ikut PSA, padahal Grasindo sudah dua kali bikin -kebetulan lagi ada ide-

    Ide berasal dari apa yang kamu sukai.

    Saya selalu seperti itu.

    Ini pertama kali saya nulis saeguk Korea. Semoga Editornya menyukai saeguk racikan saya *aamiin*

    Btw, kemarin saya bertemu seorang junior -satu almamater-. Nggak kenal sih, cuma terlibat obrolan di angkot. Awalnya kami bicara soal pengumuman tes, kami sama-sama nggak lulus. Trus mulai bicara soal lain-lain sampai akhirnya saya bilang saya nggak pernah kerja.

    Gadis itu bingung, mungkin karena dia ngitung bulan kelulusan saya sama dia yang agak jauh. Saya jadi bilang padanya saya nulis o_O.

    Dia lalu cerita kalau dia punya teman-teman yang hobi menggambar komik dan menulis cerita. Sampai-sampai temannya bilang, "Nanti nama kalian ada di ucapan terima kasih..."

    Ternyata, teman-teman yang disebutkan olehnya belum ada yang berani unjuk gigi atau mengirimkan karya ke penerbit.

    Well, lagi sibuk skripsi katanya.

    Padahal waktu skripsh*t dulu, saya malah ikut dua kompetisi, nggak peduli dengan lautan huruf kaku nan menyebalkan itu. *menarik napas*

    Saya sih setuju saja dengan 'menunda berkarya karena kuliah'. Tapi, saya tidak suka orang yang tak percaya diri atau takut walau kita nggak tahu apakah orang-orang itu memang 'menyimpan karya untuk diri sendiri' atau 'diam-diam sudah ambil start'

    Apa pun, semoga orang-orang itu bisa meraih impian yang mereka perjuangkan. Aamiin.

    Sedikit cerita, kemarin saya menonton Ada Surga di Rumahmu, wuaaaah dari awal ke akhir mata saya memanas. Gila! Awesome banget tuh film! Saya duduk di atas sekali, sendirian -sepanjang row A hanya saya- jadi bebas deh sesenggukkan *ketahuan*

    Sayang sekali peminatnya dikit. Yang nonton bareng saya rombongan ibu-ibu. Padahal, kalau anak-anak muda nonton... akan lebih baik lagi. Film ini recommended banget.

    Saya menonton ini karena latarnya di kota kelahiran dan kesayangan saya, Palembang. Di sana ampera dan sungai musinya seperti biasa~ banyak enceng gondok berseliweran.

    Lalu, saya terkejut dengan paduan drama, komedi, dan pesan-pesan moral yang diramu begitu apik. Yang bikin mewek itu ya bagian pesan-pesan moral yang terselip, contohnya di scene-scene akhir ketika Ramadan (diperankan Husein Idol) memberi ceramah isinya,

    "Saya punya teman yang kaya, selalu naik haji hampir tiap tahun, banyak karyawan, selalu mengumrohkan karyawannya tiap tahun.

    Suatu hari teleponnya berbunyi, berkali-kali tapi teman saya itu tak mengubris. Karena dia nggak angkat-angkat maka saya yang angkat, ternyata itu dari ibunya.

    Dia pun menjawab panggilan ibunya, hanya berkata-kata seadanya lalu diakhiri begitu cepat.

    Malamnya, saya mendapat kabar kalau ibunya meninggal.

    Selama ini dia mengejar surga yang jauh, pergi haji, umroh dan hal-hal lainnya tapi dia lupa dengan surga yang paling dekat, orang tua-ibu.

    Kapan terakhir kali kita menemui ibu?"

    Kemudian ada juga dialog seperti, "Jika aku bisa bertemu ibu walau hanya untuk satu menit, maka aku akan mengatakan kalau aku mencintainya."

    "Sewaktu ayahmu memberiku satu ginjalnya, aku bertanya sebanyak apa harga yang harus aku berikan untuk organ itu. Ayahmu menjawab, tolong doakan anak saya setiap ustadz berdoa."

    Link tentang orang tua yang menjadi 'surga di rumah' itu bener-bener menusuk hati. Bahkan sampai detik saya mengetik tulisan ini, adegan-adegan mengharukan di film itu menyeruak bebas, bikin terharu lagi.

    Ehm, jadi kepanjangan nih.

    Terima kasih ya telah membaca!