• Merajut

    Kamu tengah merajut
    Tapi mata orang awam tak melihat
    Tanganmu masih merajut
    Meski mulut orang awam terus berkicau

    Terus merajut
    Walau rajutan itu tak bisa dilihat siapapun
    Tak henti merajut
    Di tengah teriakan orang awam yang menganggapmu geming

    Jerit-jerit para awam menyeruak
    Tapi tak menghentikanmu
    Rajutan itu masih berlanjut
    Hingga nanti saat selesai, mereka akan bergeming


    Orang-orang awam begitu khawatir
    Sekenanya berpikir kamu terjerat depresi
    Padahal kamu tidak berdiam diri dan tidak pula sedih
    Ada sesuatu di tanganmu yang bergerak, terus bergerak.

    Merajut asa
    Merangkai mimpi
    Mewujudkan apa yang hati pilih
    Hanya kamu yang tahu

    Orang-orang awam tak memerhatikan
    Mereka hanya melihat kulit luar

    Mereka tak mengenal kamu
    Hanya tahu nama dan identitas umum

    Mereka tak memahamimu
    Apalagi melihat apa yang kamu rajut
    Mata mereka hanya terbuka untuk sesuatu yang biasa

    Tak ada tempat untuk hal di luar biasa
    Sehingga saat kamu menunjukkan hal di luar biasa itu
    Mereka buta

    "Yang kamu lakukan hanya diam."
    Tuh kan, buta.

    Padahal rajutan kamu sudah hampir selesai
    Tapi tak setitik benang pun ditangkap oleh mata orang-orang awam
    Lantas, kamu abaikan orang-orang awam itu.

    Dan saat rajutan itu sempurna,
    Mungkin kamu bisa menjualnya lalu orang-orang awam akan menemukan rajutanmu di pasar bebas.
    "Saya ini tidak diam saja."

    Note:
     
    Semalam sebelum tidur otak saya mencuatkan kata 'merajut'. Tapi karena jam tidur, saya terpaksa menunda apa yang pikiran saya teriakkan.

    Dan done, terpetakan juga isi pikiran semalam~

    Btw, kemarin sore di Gramedia PS Palembang kedatangan Tere Liye -penulis-. Saya datang lantaran sahabat saya, Dewi Agustini adalah pembaca Tere Liye. Dewi udah lama ngidam buku 'Bulan' dan penasaran dengan rupa Bang Tere itu, so saya dan sahabat saya, Susetyorini nemenin Dewi deh :).

    Sayangnya acara meet and greet itu tempatnya di Gramed PS, kecil > _ < jadi kurang leluasa.

    Acara berlangsung 2 jam mulai dari pukul 4. Bang Tere interaktif dengan penggemarnya, terbukti ia menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan serta bercerita di balik proses kreatif karya-karyanya.

    Si Dewi nggak mau nunggu sesi tanda tangan (eh, ada kan ya book signing?) lantaran hari sudah beranjak sore menjelang maghrib. Anak cewek kan ribet ya kalau sudah mau malam, jadi kami pulang tanpa say goodbye dengan Bang Tere (emang situ siapa?).

    Wkkwkwwk.

    Dari cerita Bang Tere, saya menangkap dia kerjanya di rumah, menulis full. Saya juga mau! ;).

    Tapi orang-orang awam pasti mencibir, "Nggak kerja ya?"

    Huft~

    Mau nunjukkin hasil rajutan, tapi masih progress~

    *lihat tinta merah Mbak Dita*

    Sekian dulu. Bye!.

    Sumber gambar : http://i.ytimg.com/vi/26i8NgDZU8E/hqdefault.jpg