• Dear, I.

    (https://www.femina.co.id/images/images_article/005_002_17_pic.jpg)

    Tujuh tahun lalu (2010) saya dan sahabat saya "I" saling berbagi cerita aka curhat tentang "gebetan". Sebagai anak kuliah yang unyu -belum tahu perihnya TA- perbincangan dan pertemuan kami diisi masalah tugas kuliah, gosip, dan porsi terbesar -gebetan. Beruntung, gebetan kami beda jadi tidak ada konflik . Kalau diibaratkan, saya dan I adalah kotak sampah bagi satu sama lain (sampah receh berupa curhat-curhatan anak muda yang jatuh ♥ (ketawa)).

    Sesama INTJ, sulit untuk tipe kami (pada dasarnya, I pada INTJ adalah Introver, tipe tertutup) berbagi cerita pada orang lain. Btw, saya dan dia baru tahu kalau tipe kepribadian kami sama beberapa bulan lalu~. Selama kuliah, saya tahu persis galau-galaunya I, sedih, kecewa, senang, sampai cemburu buta karena urusan asmara (ehek).

    I dan gebetan adalah teman masa kecil yang ketemu lagi sewaktu menjelang umur 19?(ya, kan?). Saya lupa persisnya, si I dan gebetan mulai chatting, intens, dan akhirnya si I terjebak dalam galaunya cinta. Btw, mereka berdua tidak satu kota apalagi satu kampus. Mereka ketemu ketika I kembali ke kota asalnya (dia mahasiswa perantau).

    Karena sama-sama di masa "menggebet seseorang" (si I gebetannya cuma satu itu doang selama tujuh tahun), saya dan dia sering bertukar cerita. Kadang marah, kesal, bahagia gara-gara gebetan dilampiaskan ke satu sama lain -karena gebetan kan belum "sah" untuk jadi pelampiasan.

    Sampai akhirnya, si I nyaris mundur karena merasa si gebetan tak jua menjelaskan status atau ya... Si I butuh kepastianlah. Dekat tapi tanpa status kan nggak enak ya, gantung. Apalagi kalau sama-sama tahu perasaan tapi nggak ada yang mempertegas juga nyebelin (ehm).

    Oke, di kala hampir menyerah itu, si gebetan tiba-tiba datang dan HUPLA! Terjadilah pengakuan saudara-saudara sebangsa dan setanah air!

    Si I langsung nelpon saya malam itu juga. Tapi ya, sialnya dia punya teman macam saya yang tidur setelah isya aka jam 8 jadi terpaksalah dia bersenang-senang kayak orang gila sendirian di malam hening tersebut.

    Sebagai sahabat, yang tahu rasanya menyukai seseorang tapi tak kunjung berbalas dan akhirnya dia mendapatkan kepastian, saya sangat bahagia .

    Mereka memutuskan LDR aka hubungan jarak jauh. Nah, di sini ujian perasaan mereka makin diuji. Sahabat saya mah saya jamin orangnya cuek apalagi dengan cowok (well, tipe INTJ mah gitu kali ya, karena saya juga gitu). Tapi, si gebetan -eh salah- kekasihnya dikerumuni banyak cewek (maklum, seorang tutor). Wih, si I cemburu .

    Ya, macam-macamlah cerita cemburu ini. Pastinya, cemburu itu tanda perasaan.

    Hubungan mereka naik turun. Kadang si I galau kalau tidak ditelepon atau dichatting. Apalagi ketika kami berkesempatan belajar di negeri Jiran selama satu semester, roaming kan mahal yak, jadi si I menyiasati dengan komunikasi seminggu sekali apa yak? Maaf saudara sekalian, saya lupa .

    Lulus kuliah, I kembali ke tanah kelahirannya. Sementara sang kekasih mengabdi pada tanah rantauan.

    Mulut-mulut nyinyir mulai berkicau, "Kapan nikah?" "Udah punya calon?" dan rentetan lainnya yang masuk kuping kanan-kiri, nyangkut di otak, nyesek di hati.

    I dan kekasihnya membahas masalah masa depan mereka.

    Seingat saya, si I ingin nikah di usia 27 -tapi taunya di 26  (terus saya kapan?, teganya ninggalin saya ).

    Persiapan menuju pernikahan pun direcoki dengan drama-drama. Ya, saya mah sebagai pendengar cerita I cuma bisa nyumbang doa .

    Dan, eng ing eng...

    Beberapa hari lagi mereka akan menikah . Insya Allah sah.

    Tujuh tahun berlalu, dan mereka satu langkah menuju gerbang baru.

    Terharu. Hiks.

    Bahagia. Deg-degan.

    Saya berharap semoga I dan calon suaminya diberikan keberkahan, kekuatan, dan kebahagiaan dunia akhirat. AAMIIN.

    Sayang, saya berhalangan jarak dengan pernikahan mereka . Maafkan ketidakberdayaan d***. Semoga nanti bisa hadir di momen bahagia selanjutnya, aamiin .

    Baiklah, untuk calon suami I, nantikan surat saya untukmu. Wejangan dan keluh kesah (eh) saya yang jadi saksi perjalanan kalian (dari sudut pandang I tapinya wkwkwk).