• Antara Rating Film, Bioskop, dan Penonton


     
    (http://cdn-2.tstatic.net/sumsel/foto/bank/images/suasana-antrian-yang-ada-di-bioskop-palembang-square-mal-kamis552016_20160505_165001.jpg)



    Terdapat lima bioskop di kota Palembang. Tiap hari, film-film lokal dan mancanegara menghiasi layar-layarnya. Beragam genre pun hadir, (calon) penonton bebas memilih mau menikmati komedi, horror, drama, thriller, roman, sejarah, dan sebagainya. Selain dimanjakan dengan tema variatif, (calon) penonton pun dimudahkan dengan kehadiran sistem online, membeli tiket melalui internet, tanpa perlu mengantri.

    Sayangnya, ada satu hal yang luput diperhatikan oleh (calon) penonton yaitu rating film. Di studio yang menayangkan film berating 13+, bisa saja kita temukan anak di bawah umur 13 tahun. Padahal, rating diberikan sesuai tema dan isi film tersebut, yang mungkin saja belum bisa dimengerti atau pantas diterima oleh anak di bawah umur 13 tahun. Lain hal jika film tersebut berating semua umur atau bimbingan orang tua, anak-anak boleh menonton.

    Suatu ketika, ada anak-anak yang menonton film romansa berating 13+ di bioskop. Bagaimana mereka bisa masuk? Karena orang tua mereka membelikan tiket. Di tengah film, anak-anak tersebut mulai bosan dan rewel minta pulang. Lantas, tatkala adegan roman ditayangkan, orang tua tersebut panik. Mereka tidak menyangka film lokal akan menghadirkan adegan beradunya bibir.

    Seharusnya, orang tua seperti mereka lebih memerhatikan film yang akan mereka tonton bersama anak-anak terutama di negeri adegan adu bibir termasuk hal tabu, pasti disensor jika tayang di televisi atau komik sementara di layar lebar, penyensoran tidak seketat televisi. Di sisi lain, anak-anak yang tidak menonton film sesuai umurnya akan kesal, tidak tenang, dan berujung rewel yang mengganggu penonton lain.

    Bayangkan film berating 17+ ditonton anak di bawah umur, misalnya film thriller atau aksi yang memuat adegan brutal, keji, kekerasan, atau bahkan pembunuhan. Anak-anak di bawah umur mungkin akan terpengaruh atau takut.

    Lalu, ketika anak-anak menonton film tidak sesuai rating, siapa yang salah?

    Apakah salah pihak bioskop, terutama bagian penjualan tiket yang tidak memerhatikan usia pembeli tiket atau memperingatkan orang tua apabila mereka ingin membeli tiket untuk anak yang belum pantas menonton suatu film?

    Apakah salah orang tua yang menutup mata pada rating demi nafsu menonton dan tidak mau meninggalkan atau menitipkan anak-anak sewaktu menonton? Mungkin, pihak bioskop perlu menyediakan tempat anak-anak menunggu selama orang tua mereka menonton film.

    Apakah salah anak-anak yang penasaran tentang suatu film padahal usia mereka belum mencukupi? Di sini, sebaiknya petugas loket memeriksa kartu identitas agar anak-anak menonton sesuai umur. Tentu, harus ada sikap tegas dari pihak bioskop dan menyarankan film yang lebih aman untuk usia tertentu.