Ketika Kreativitas di Pandang Sebelah Mata

 http://4.bp.blogspot.com/-LMXKHnl2Wuc/UNaWSzTVa0I/AAAAAAAAHlY/NXkosimF0Ks/s640/kumpulan-kata-mutiara-hitam-putih-trans7.jpg

" Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengutamakan kreativitas"
- Deddy Corbuzier, Hitam Putih, 2 Mei 2013 -


Malam ini, saya menonton salah satu acara tv favorit saya. Hitam Putih. Episode kali ini membahas mengenai pendidikan, dikarenakan hari ini adalah hari pendidikan nasional #kangen upacara T_T.

Saya suka dengan kata-kata om Deddy mengenai pendidikan, dimana orang tua lebih menganggap penting matematika dibandingkan bahasa inggris, bahasa inggris lebih dianggap penting daripada kesenian dll #yang terpenting itu harusnya ilmu agama karena agama mencakup semuanya.

Padahal, semua itu penting. Hanya saja, prioritasnya bergantung pada individu masing-masing. Untuk saya misalnya, karena saya lambat dalam matematika dkk, saya akan memprioritaskan pelajaran lain, orang lain mungkin karena suka matematika jadi memprioritaskan matematika. Satu hal, setiap orang terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Ada yang diberi Allah kemampuan fisik yang bagus sehingga ketika pelajaran olahraga selalu bisa, ada yang diberi Allah kemampuan berhitung sehingga bagus dalam matematika, dibandingkan meributkan nilai-nilai jelek atau yang mana pelajaran yang memiliki prioritas tinggi dan lebih penting, saya rasa yang paling penting adalah mengembangkan pelajaran yang disukai dengan sebaik mungkin, tanpa perlu menguasai semuanya kecuali anda jenius.

Fokus pada hal yang kita sukai.
Pelajari hal yang kita sukai.
Amalkan ilmu yang didapat setelah pelajaran.

Para matematikawan membuat terobosan didunia pengetahuan dan teknologi,
Para musisi membuat komposisi untuk menghibur
Para dokter menggunakan ilmunya untuk menolong orang sakit.
Dsb.

Semua berguna sesuai dengan fungsinya masing-masing.
 
Saya teringat sebuah cerita #hitam putih juga kalau tidak salah. 

Ada seorang anak SD, suatu hari ketika pembagian raport, orang tuanya melihat angka 5 di pelajaran matematika dan nilai 9 untuk kesenian. Orang tuanya langsung menyewa jasa seorang guru matematika agar anaknya memperbaiki nilai.

Oke, untuk memberi les matematika mungkin adalah pilihan yang bagus.

Tapi satu hal, orang tuanya tidak peduli dengan nilai 9, dikarenakan " Kesenian??!! Paling juga cuma ngambar dan nyanyi depan kelas", mind set-nya 

'Kesenian itu tidak penting, pintar dalam kesenian tidak membanggakan, mudah mendapat nilai besar, kan hanya ngambar dan nyanyi'.

Dan akhirnya, orang tua anak itu dengan perlahan 'membunuh' kreativitas sang anak, menyepelekan bakat sang anak.

Merecokinya dengan matematika. Dan akhirnya, anak itu hancur perlahan karena bidangnya memang bukan matematika.

#lirikkaca

Di acara Hitam Putih tadi, om Deddy bercerita mengenai seorang bule tempat ia belajar sulap, bule itu berkata, " Kamu terlahir sebagai magician".

" Tidak semua orang terlahir sebagai akuntan, kan?" lanjut om Deddy. Om Deddy seperti ingin men-set ulang pakem yang ada pada otak para orang tua, dimana pekerjaan itu, bukan hanya dokter, guru, pilot, akuntan, dll yang beken #yang sukses dimata orang tua.

Setahu saya, sangat jarang orang tua yang menyebutkan ' Musisi, penulis (art family)' sebagai pekerjaan #lagi-lagi karena seni dipandang sebelah mata dan kurang penting. 

Padahal, seni itu susah juga loh, om, tante, siapapun anda yang berfikir seni itu nggak penting.

Bermain musik, menulis lagu, mengaransemen, menyanyi, menari. 

Butuh waktu dan kerja keras loh, ditambah ide dan kreativitas yang tidak bisa dibeli dimanapun kecuali dikasih Allah. Sebagai contoh, meskipun anda membaca banyak buku mengenai cara menulis lagu misalnya, apakah sedetik kemudian anda sudah bisa menulis lagu yang bagus dan berkualitas? ^_^.

Seni itu juga bermain pada ketidakpastian #inspirasi itu datangnya random, tidak pasti kapan.

Jadi, tolong jangan menyepelakan seni ya ^_^.

Om Deddy kemudian bertanya, " Kamu terlahir untuk menjadi apa?".

Saya diam. 

Menurut saya, pekerjaan adalah sesuatu yang kita sukai untuk lakukan, berkaitan dengan profesi. Semua orang bebas menentukan pekerjaan yang ingin ia lakukan #selagi halal. Salahnya adalah, orang tua sering menuntut untuk menjadi seperti yang mereka inginkan

" Kamu nanti jadi dokter saja"
" Kamu nanti jadi guru saja"
" Kamu nanti bla bla bla"

Sebenarnya ini harapan kah? Obsesi yang tak tersampaikan kah? Pemaksaan kah?

" Saya memilih jurusan musik " #SPMB5tahun yang lalu.

" Ngapain milih jurusan musik?"

Salah ya kalau milih jurusan musik?
 Salah ya kalau mau belajar musik? 
Salah ya kalau suka musik?

Akhirnya malah tersesat, tak tahu arah.
5 tahun kemudian, ada pembicaraan seperti ini :

" Setelah lulus, kamu kerja  bla bla bla , S2 bla bla bla"

" Saya ingin menjadi penulis"

" Kalau mau nulis ya nulis, disela-sela"

" Saya mau fokus nulis"

" Nanti"

Nanti itu berapa lama ya? Nanti itu sampai kapan ya? Nanti itu bakal datang nggak ya?




 









Postingan populer dari blog ini

Contoh Kerangka Karangan (Outline) Novel

Rekomendasi Komik Cewek (Shojo Manga)

Random Talk About Lucy Heartfilia (Fairy Tail)