Penulis di Era AI (Akal Imitasi)
Menurut pendapat saya, merebaknya AI (Akal Imitasi atau Artificial Intelligence) terutama dalam penerbitan-penulisan (hingga industri kreatif) bisa menjadi pedang bermata dua.
AI untuk awam:
AI adalah alat yang bisa menjadikan siapa pun menjadi "penulis", "desainer", "ilustrator", "musisi", "pembuat film" dsb hanya dengan menulis prompt dan klik. GRATIS. Meskipun tanpa kepemilikan hak copyright. Mereka akan hype dengan AI karena membuat mereka bisa melakukan sesuatu tanpa harus bertahun-tahun latihan… praktis. Namun, kemampuan mereka tidak akan terasah seperti para professional yang belajar dari awal dan berproses selama bertahun-tahun. Ada jatuh-bangun, belajar-revisi hingga menghadapi industri nyata yang tidak dialami oleh para awam.
Ada sense dan pengalaman yang membedakan antara awam dan professional. Jika masuk ke lingkup industri, akan ada hal lain seperti,
"Kok tulisan ini template sekali? Mirip sama akun A, B, C?"
"Kok gambar ilustrasi ini pecah?"
"Kok gak konsisten?"
"Bisa diubah gak bagian ini?"
Tiga hal tersebut adalah tantangan bagi awam yang memakai AI yakni TEMPLATE. AI itu belajar dari data, mempelajari pola, dan menghasilkan data dari pola yang dipelajari. Jika misalkan, chat GPT belajar data A, B, C… ya hasilnya A, B, C. Lalu, 10 orang pakai GPT (apalagi tanpa edit dan bukan professional), hasilnya ya A, B, C. Semakin banyak yang generate, semakin familier kita dan tahu kalau itu hasil AI. Orang awam belum tentu mau mengedit/memoles… karena pada dasarnya mereka memakai AI untuk mencoba, pribadi, atau ya engagement sosial media (biasanya saya temukan copy-paste tulisan AI di platform Thread dengan ciri tertentu).
Lalu, ada keluhan gambar ilustrasi pecah. Ya jelas… pakai AI (gratis pula) sehingga tidak akan ada versi yang hi-res apalagi sesuai resolusi/dpi tertentu. Begitu pun juga ketika butuh konsistensi atau revisi, hasil AI belum tentu bisa sama seperti awal dan hanya revisi sedikit, bisa jadi berubah drastis karena ya mereka bukan manusia apalagi professional.
Kesimpulan saya, AI di tangan awam akan menjadi produk awam di industri mana pun. Template. Nilai jualnya murah bahkan gratis (karena akan ada yang bilang, "Buatnya gratis juga, modal nyuruh AI doang!").
Di industri penerbitan, penulis yang memakai AI untuk mengerjakan dari A sampai Z, akan menghasilkan tulisan AI yang nilai jualnya rendah… diragukan keasliannya karena "AI banget". Lama-lama, penulisnya tidak dianggap professional, tak juga berintegritas. Kemampuan menulisnya akan dipertanyakan dan mungkin di-blacklist industri (editor professional). Bisa jadi pembaca tak mau beli karena menganggap prosesnya juga asal jadi (tinggal pakai prompt).
AI untuk pemilik usaha:
Generasi boomer hingga Y alias para atasan di kantor saat ini sudah sedikit-sedikit "AI sajalah." Dengan pertimbangan AI murah dan cepat.
Saya teringat sebuah rumus:
Mau cepat, harga mahal, jangan berharap kualitas bagus
Mau murah, jangan berharap kualitas bagus, jangan berharap cepat
Mau kualitas bagus, jangan berharap cepat dan murah
Jadi, kalau mau pakai AI untuk murah dan cepat, jangan harap berkualitas bagus. Seperti poin yang saya tulis di bagian awam, kualitas AI saat ini (terutama di bidang kreatif) masih punya PR dalam hal konsistensi, resolusi (master file), hingga copyright. Belum berurusan tentang legalitas (jika terkait klien yang memiliki guideline strict) dan menjamurnya "konten AI generated" yang masif karena orang-orang berlomba memakai AI dan "menghasilkan sesuatu". Bisa-bisa kita tidak dapat membedakan orisinalitas, kreativitas, atau semuanya hasil copy-paste AI?
Untuk pemilik usaha/bisnis, memakai AI untuk menggantikan karyawan belum tentu bijak. AI masih membutuhkan manusia untuk mengolah. AI memang bisa mempercepat, tetapi tetap harus ada manusia yang melakukan pengecekan, revisi, hingga presentasi. Sentuhan manusia professional itu mutlak diperlukan agar konsumen/klien percaya kalau kita serius, bukan asal cepat jadi.
AI untuk para professional:
Saya teringat era manual tiba-tiba diserbu "digital" beberapa dekade lalu. Dari menggambar manual, tiba-tiba ada gambar digital… dari kamera "film" menjadi kamera digital, dari teater ke film lalu ke televisi dsb. Orang-orang ada yang takut dan menolak, ada juga yang langsung belajar beradaptasi sehingga menguasai keduanya. Untuk para professional, saya menyarankan untuk BELAJAR BERADAPTASI. Saya meyakini AI adalah alat bantu, terutama jika digunakan oleh para professional. AI bisa membantu berkomunikasi (penerjemah), mempercepat kita cari ide-referensi, menerjemahkan arahan, merapikan catatan, hingga brainstorming sehingga menjadi lebih hemat waktu untuk kita.
Latar belakang saya, pernah berkuliah jurusan Teknik Informatika dan ada mata kuliah bernama "Kecerdasan Buatan" maupun "Sistem Pakar". Di sini, kami belajar menerapkan ilmu-ilmu dari para pakar untuk dijadikan sebuah sistem/alat bantu (seperti aplikasi). Ilmu para pakar disimpan di basis data, lalu dengan metode algoritma tertentu akan diolah, dibuatkan studi-studi kasusnya, dites bersama para pakar. Hal ini untuk membantu pekerjaan para pakar, misalnya untuk screening pasien di awal, mendeteksi sesuatu dari gambar, membantu mempercepat pencarian informasi dsb. Sehingga, saya memang sudah dari awal meyakini AI adalah alat bantu dan sangat akan membantu jika dipakai professional.
Saat ini, awam dan pemilik bisnis lagi senang dengan adanya AI yang membuat mereka "memproduksi" sesuatu dengan murah (bahkan gratis), menyebabkan harga-harga jasa dan produk (terutama kreatif) menjadi MURAH. Namun, tenang… akan selalu ada tipe-tipe pembaca/pelanggan berdasarkan prioritas mereka masing-masing. Tentang tipe-tipe pembaca dan prioritasnya saya dengar di stand up comedy Bang Pandji dan saya ilustrasikan dalam bentuk bagan:
Saya pernah baca kalau dulu industri cetak ketakutan saat digital muncul… pasar pindah haluan ke tempat baru, teknologi baru, pengalaman baru. Namun, apakah semua benar-benar ditinggalkan?
Di industri penerbitan, misalnya:
- Buku cetak (yang diterbitkan penerbit/melalui tahap kurasi editorial hingga indie), tetap ada yang beli walaupun harga semakin mahal. Segmentasinya adalah orang-orang yang tetap ingin membaca buku fisik, mengoleksi, hingga berprinsip buku adalah salah satu cara agar tidak brain rot di era digital. Kemungkinan para pelajar, pekerja, atau orang tua yang membelikan anak-anaknya buku cetak. Value lain membeli cetak di toko buku misalnya Gramedia adalah kualitas karya, yang melewati editorial saya yakini kualitasnya lebih baik daripada yang tidak melewati editorial. Apalagi editorial penerbit besar (misalkan grup Gramedia).
- Buku digital (yang diterbitkan penerbit/melalui tahap kurasi editorial hingga indie), tetap ada yang beli atau langganan karena menganggap buku digital lebih praktis, tidak perlu tempat khusus seperti buku fisik, bisa dibaca kapan pun selama ada ponsel. Kemungkinan konsumennya adalah pelajar, mahasiswa, hingga para pekerja.
- Platform novel online (bisa upload mandiri/tahap editorial platform), tetap ada yang baca atau beli koin… segmentasinya mungkin agak berbeda dari buku cetak dan digital, karena saya observasi kalau untuk poin ketiga ini… genre populernya adalah cerita rumah tangga, romansa, dan 21+ (erotis). Kemungkinan besar, mayoritas pembacanya adalah ibu rumah tangga/pekerja, perempuan berusia 25+.
Saya ingin menggarisbawahi kalau sebuah teknologi atau hal baru bisa "mematikan" atau "membuat" segmentasi baru. Kita hanya perlu belajar, beradaptasi, mencari peluang/celah.
Dari ketiga poin tersebut (buku cetak, buku digital, novel-novel online di platform), masing-masing memiliki target pembaca. Mereka bisa jadi beririsan, bisa juga sangat beda. Tulisan AI, jika mau jadi cetak atau digital oleh penerbit professional misalnya… pasti harus berhadapan dulu dengan para tim editorial yang sudah membaca atau mengedit puluhan hingga ribuan buku. Mereka para professional pasti TAHU mana naskah yang layak/berkualitas, mana tidak. mana AI (yang menulis keseluruhan), mana bukan… mana yang kolaborasi AI, mana bukan… mana penulis benaran dengan penulis jadi-jadian. Jadi, industri penerbitan punya filter tersendiri untuk tetap menghasilkan karya professional berkualitas sesuai visi-misi penerbit.
Tulisan AI juga sah-sah saja muncul… tetapi, balik ke poin saya tentang AI untuk awam… mereka akan menghasilkan tulisan yang template. Sementara, penulis professional yang sudah berpengalaman, dari nol, digodok oleh waktu-membaca banyak buku-hingga mungkin dibantai editor, akan punya taste, sense, ciri khas, hingga daya tahan yang tak dimiliki penulis jadi-jadian. Jika penulis professional berkolaborasi dengan AI, saya yakin proses bekarya bisa lebih cepat dan efisien karena proses riset, pencarian referensi, penataan, hingga brainstorming sebelum bertemu editor—lebih memangkas waktu.
Jadi, untuk para professional, targetkan kita mendapatkan pembaca atau klien yang:
- Menghargai professionalitas ilmu, pengalaman, dan sentuhan manusia dalam karya.
- Paham prinsip kalau mau hasil bagus, maka harus bersedia bayar mahal dan butuh waktu.
- Tawarkan value yang membedakan karyamu dengan hasil AI awam. Bisa jadi, sentuhan kreativitas. Misalnya, kamu punya ilmu yang bisa membuat tulisan menjadi jauh lebih baik—bahkan jika dibantu AI. Orang awam belum tentu paham struktur tiga babak, penokohan, membuat plot, EYD, KBBI dsb. Apalagi kalau kamu menulis soal profesi atau sekitar kamu… AI bisa bantu menajamkan tulisan, tetapi kamu tetap auntentik dengan ilmu dan pengalamanmu.
- Paham soal legalitas dan copyright.
- Pada akhirnya, yang tampil adalah kamu. Kamu sebagai manusia. Jika nanti ada acara peluncuran atau wawancara, kamu dan otakmu yang ditantang untuk berkata-kata… untuk menjelaskan, melakukan presentasi, memaparkan sesuatu dalam waktu cepat. Orang yang terbiasa membaca dan menulis, akan kelihatan dari cara bicara (termasuk pilihan kata) dan mengetik (sosial media), kok!
Ah, saya jadi ingat… sebelum AI pun, pembaca ada tipe-tipenya…. dan saya menemukan kalau:
Pembaca pelit/miskin = bayar murah/gratis bahkan ilegal, bawel, sok ngatur penulis, tidak menghargai copyright
Pembaca sultan = berani bayar mahal asal asli, support penulis, bersedia datang ke acara penulis
Saya yakin, orang awam akan ada masa bosan dengan AI, apalagi jika harus membayar langganan (+isu air/lingkungan sehingga AI pasti akan makin mahal). Untuk para "kreator/penulis" yang menjual tulisan atau jasa murah pun akan ada masanya menyerah karena capek, tidak cukup menghasilkan untuk kehidupan karena kebanyakkan orang dengan skill/modal yang sama "bisa" dan "murah". Biarkan mereka berada di red ocean dan berebut konsumen berdana rendah tapi permintaan/ekspetasi setinggi langit.
Untuk para professional, kalian punya value yang tidak dimiliki orang awam! AI (kalau bisa juga yang premium ya agar bisa punya keunggulan daripada yang gratisan) bisa dipakai semua orang, tapi akan berbeda hasilnya jika dipakai professional. Mari kita memiliki mindset untuk belajar-beradaptasi bahwa AI adalah alat bantu. Jika kita professional + AI, kita bisa menawarkan hasil professional juga—bahkan bisa lebih cepat dari biasanya— serta tidak menurunkan standar/kualitas agar kita bisa dipertemukan dengan pembaca, penerbit, klien yang sesuai standar professional kita.
Komentar
Posting Komentar