Mengapa Menjadi Penulis Webtoon Tidak Semudah yang Dibayangkan? Ini Tujuh Kendalanya

 Saya menjawab ini berdasarkan pengalaman saya sebagai editor komik sekaligus penulis, ya. Hal ini juga berlaku ke webtoonist~

Kendala yang biasanya ditemukan pada penulis pemula adalah:

  1. Belum bisa merumuskan premis (karakter + tujuan + halangan/urgensi). Kalau ditanya karakternya seperti apa? Tujuannya apa? Halangannya apa? Urgensinya apa? Banyak yang belum mampu menjabarkan atau merumuskannya. Padahal, premis adalah hal pertama yang dinilai editor.
  2. Diminta menulis sinopsis 1–1,5 halaman yang mencakup awal hingga akhir cerita, malah nyembunyiin akhir cerita… alasannya, biar jadi kejutan. Halo! Editor itu orang yang harus tahu SEMUANYA, termasuk plot twist dan akhir cerita karena dia harus menilai keseluruhan ceritamu, bahkan sebelum menyentuh naskahmu. Jadi premis dan sinopsis itu penting! Tidak perlu rahasia-rahasiaan. Editor professional punya tanggung jawab pekerjaan, termasuk hal-hal yang terkait legalitas atau hak cipta.
  3. Diminta buat plot per episode berdasarkan struktur cerita (misalkan 3 babak), tapi nggak dikerjain atau asal bikin karena berpikir bisa buat naskah episode-episode sembari menggambar/menulis (sesuai ilham (Smash?) yang datang alias sistem kebut sebelum deadline). Padahal, plot per episode itu guideline untuk penulis, mempermudah pembagian atau bobot tiap episode. Bahkan jika nanti ada perubahan pun, bisa dikonsultasikan ke editor dan bisa cepat tambal-sulamnya.
  4. Ketika mengirimkan konsep cerita/naskah ke editor dan diulas, tidak mau dan ngotot dengan diri sendiri. Baik, penulis berhak menolak atau menerima saran editor… Namun, tolong betul-betul dipahami kalau editor memberi saran untuk membuka perspektif, memperbaiki sesuai EYD/UU misalnya… editor itu bertugas membimbing, memaksimalkan tulisan penulis. Jadi, mohon kerjasamanya. Jika penulis punya argumen yang bertentangan dengan editor, jawab dengan argumen dan data/riset yang meyakinkan. Umumnya, di poin 4 ini, penulis kerap kekeuh kalau diarahkan ganti genre. Misalnya penulis mau aksi-misteri, tapi menurut penilaian editor, penulis atau materi tulisannya belum bisa menulis genre ini dan diarahkan ke genre lain. Nah, penulis boleh ngotot dengan genre tertentu, tetapi editor professional juga punya hak dan pertimbangan bisnis apakah tulisanmu—dengan kualitas belum matang— diizinkan rilis dan dibayar? Pasti ada alasan dan pertimbangan mendalam kenapa editor meminta A, B, C. Komunikasi adalah bagian penting di poin ini. Editor = rekan, bukan musuh.
  5. FOMO. Misalnya tema webtoon yang lagi populer isekai, jadi nulis isekai semua… pada akhirnya, ketika semua webtoon rata-rata isekai, karya (apalagi pemula) akan susah stand out dan akhirnya selesai satu musim, IP nggak bisa berkembang. Fomo boleh, belajar dan ikuti tren boleh, tetapi tetap harus punya keunikan sendiri. Saya pernah dengar dari Bang Pandji Pragiwaksono, "Sedikit lebih beda lebih baik, dari sedikit lebih baik." Jadilah berbeda, eksplor hal lain yang belum atau tak pernah digabungkan. Menulis tentang sesuatu yang terdekat, lalu diolah dengan menggabungkan genre tertentu lebih baik daripada menjiplak formula yang sama tanpa perbedaan unik.
  6. Terlalu self insert. Penulis pemula mayoritas akan memulai dengan menulis tentang hal terdekat di dirinya… yakni diri sendiri. Walaupun, disamarkan :). Nah, beberapa penulis cenderung tidak mau karakter di tulisannya ini kenapa-napa, takut memberi konflik, takut "menganiaya" karakter (utama). Karena… ini adalah bagian dari dirinya sendiri. Ada juga yang disarankan bikin konflik A, B, C untuk memperkuat cerita, tapi dijawab: "Nggak mau, Kak… ini dari pengalaman sendiri soalnya." LAH?! Ini fiksi, kan? Kalau ini autobiografi bolehlah gak didramatisir atau ditambah konflik. Tapi, kalau tulisanmu bisa lebih kuat, karakternya berkembang, hingga bisa menaik-turunkan tensi pembaca… tulisanmu bisa makin disukai dan berkesan bagi pembaca. Mohon bedakan cerita diri sendiri dengan cerita yang sedang kamu tulis (kecuali autobiografi).
  7. Penulis itu banyak di Indonesia, dilihat dari jumlah penulis di berbagai platform. Jadi, kalau kamu penulis pemula, ibaratnya kamu nyemplung ke red ocean. Peluang tulisanmu dipilih oleh editor nyaris nol. Kenapa? Karena di industri, ada banyak filter: terkenal/tidak? Potensi pembacanya berapa? Pengalaman menulisnya apa saja? Jam terbangnya? Professional gak? Bayarannya berapa? Value penulis ini apa? Attitude-nya bagus nggak? Baca buku/komik apa saja? Bersedia revisi? Jadi, siapkan kegigihan dan ketahanan. Industri penulis punya hal yang miris: penulis banyak, gaji (sangat) kecil, kerjaannya tidak stabil, pembacanya banyak tapi kere/suka baca illegal (faktor pendapatan rakyat sangat berpengaruh juga bagi kesejahteraan penulis).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jual Buku Eksklusif: Sejarah Lengkap Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan (1926–2025) oleh Ahmad Dailami

Contoh Kerangka Karangan (Outline) Novel

Mai Kuraki in the poetry